Untitled Document
kalo kalian Mau lanjutin baca tulisannya ... klik aja judul tulisannya...

Sabtu, 10 Desember 2011

SUNAT ITU SAKIT ?


Sunatan memang hal yang paling dikatuti oleh semua anak kecil tanpa terkecuali gue sendiri. Dulu , gue paling anti dengan kata-kata sunat.  Bagi gue , sunat adalah penyiksaan yang luar biasa terhadap titit manusia.  Gue sunat waktu kelas 5 sd. Parahnya, gue ikut sunatan masal.  Sunatan masal adalah sunatan yang dilakukan secara bersama-sama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Sunatan masal nggak jauh beda sama nunggu angkot atau bus di halte. Bedanya,  kalo sunatan masal , loe nunggu giliran titit loe di bacok. Jelasnya, Sunatan masal itu nggak Cuma buat diri sendiri. Tapi Orang lain juga pada ikutan. Namanya juga udah ‘masal ’.   Oh ya , Biasanya sunatan masal itu  dibayang-bayangin dengan darah dan jenis  gunting yang gede’nya kayak mau nyunat  anak gajah. 
Bahkan Gue sering ditakut-takuti ketika gue bertanya “ Sunat itu sakit ? “
Maka beberapa jawaban jahannam pun gue terima mulai dari :
1.      Sunat itu sakit banget. Kemaluan loe di koyak-koyak.
2.      Sunat itu darahnya muncrat-muncrat. Wuihh... Pokoknya sakitnya kayak mau mati
3.      Sunat  itu rasanya kayak titit loe dijepit di pintu.
Tapi yang gue banggakan dari diri gue adalah
“ Gue sunat atas permintaan gue sendiri ”.  Bahkan gue minta ke dokternya supaya gue diizinkan melihat punya gue di sembelih.  Pada saat itu gue emang anak yang pemberani.  Gue nggak memperdulikan ocehan orang tentang sunat. Mau dijepit dipintu kek ? mau dijepit di kulkas kek ? Gue nggak peduli ! Gue tetap berani. Kenapa gue berani ? alasannya adalah karena gue nggak mau melaksanakan sunat di masa tua.  Kata nenek , masa muda adalah masa – masa paling indah. Hal ini juga nggak menutup kemungkinan bahwa masa muda adalah masa yang paling indah buat sunat-menyunati.

*Hening

Awalnya, Si dokter nggak ada ngasi tanda apa-apa kalo dia mau membius gue. Dia ngajak gue ngobrol panjang lebar dengan segala pertanyaan racunnya. Gue diajak ngobrol kesana kesini. Mulai dari nanya identitas gue, minat gue,  bahkan berapa kali gue e’ek  dalam sehari.
Ini nggak penting banget.  
Ex :   ‘ Nama adek siapa ? ‘
‘ udah berapa lama ingin disunat ? ‘
Tapi karena pikiran gue Cuma tertuju kepada nasib yang akan terjadi pada penis gue, so pertanyaan si dokter seakan berubah

‘ nama penisnya siapa ?
‘ Udah berapa lama punya penis ? ‘

*Sing -  Banci yang ketukar

Setelah bertanya-tanya demikian.  Si dokter mulai memperkenalkan alat-alat sunatnya ke gue. Mulai dari  Gunting, suntik bius,  perban dan lain-lain ( kapak , linggis , dan benda pembunuh lainnya ).  
Gue liat dia ngambil jarum bius. Gue mikir , kemanakah benda tusuk itu akan menancap ? Apakah ke titit gue ? ke bokong gue ? atau ke mana ?
Kalo seandainya ditancapkan ke penis gue, apalagi ke ujungnya. Maka tamatlah riwayat hidup seorang Rifqi. 
‘ tenang aja qi , nggak bakalan sakit kok. Kayak digigit semut doang. Trust me ! it works ! ‘ pak dokter mencoba menenangkan rasa takut gue.
Gue pun mencoba menenangkan diri  terhadap eksekusi pembacokan ini.
Tanpa menggunakan isi otaknya , si Dokter menancapkan benda mengerikan itu kebagian bawah gue. Tepatnya di titit gue.
BAJINGAAAANN !!!! dokter aseemm !!!! kampreettttt !!! loe emang benar-benar  kampreeett !!!
Gue serasa nggak hidup di dunia lagi. Masa’ sih jadi dokter  nggak ngasi aba-aba kalo mau nusuk. Bikin kaget bercampur tersiksa.  Gue benar-benar dendam  sama dokter biadab itu. Seenaknya dia membuat gue menderita menahan rasa perih yang hebat ini.
‘kayak digigit semut kan ? ‘ kata dokter  dengan muka polos tak berotak
Gue langsung komen dalam hati.
‘nggak  goblok .... Loe emang dokter yang menyebalkan.  Yang barusan itu mah rasanya kayak digigit Iguana’
Dia pun melanjutkan pemotongan. Sementara gue udah merasakan air mata gue netes ke bibir. Gue cicipi . Rasanya Asin.
Dan gue melihat hasil pekerjaannya. Gue lihat punya gue udah sukses dengan model titit cepak.  Dan dia ( pak dokter ) membalutnya dengan perban.  Kayaknya dia senang ngeliat gue menderita membuka saat perban nanti. Karena dia bakal tau kalo gue akan nangis lagi pada saat pembukaan perban nanti. But it’s okay !
‘ dok, dulu dokter  disunat pake apa ?’
‘ ya .. pake gunting lah qi ? ‘
‘ oh berarti kita sama dong...? ‘
‘ iya ... hehe ‘
Gue ngajak dia ngobrol supaya  merelaksasikan tenaga dan mental nya yang udah terbuang karena menyunat gue. Gue tetap mengucapkan terima kasih kepada beliau karena sudah mau memangkas kemaluan gue. Biar gimanapun, ini adalah tuntutan agama. Supaya bernilai suci. Jadi, setiap anak laki-laki yang akan memasuki  fase remaja harus disunat. Atas dasar itulah gue memberanikan diri untuk disunat. Karena kalo gue menunda event sunat gue , otomatis umur gue akan bertambah tua. Dan kalo dalam masa tua itu gue belum juga disunat. Maka pak dokter pasti lebih mengeluarkan tenaga ekstra menghadapi kemaluan gue. Lagian , masa muda adalah masa-masa paling indah.
Setelah lebih kurang  3 minggu. Dan setelah perban gue udah dibuka , gue mulai menggunakan alas celana. Banyak yang bilang ke gue , kalo gue terlalu lama sembuhnya. 3 minggu. Itu memang benar. Waktu kesembuhan 3 minggu memang cukup lama. Cuma itu wajar bagi gue. Karena apa ? karena titit gue yang habis dipangkas ini sudah berkali-kali tersentuh kaki meja, kaki kursi, bahkan kaki adik gue sendiri. Maka dari itulah gue agak lama sembuhnya. Pokoknya, apapun yang  gue rasain waktu disunat belum menjadi apa-apa kebanding kondisi titit gue yang tersentuh kaki-kaki  ababil itu.
Buat para pembaca yang mau sunat. Buang fikiran loe jauh-jauh tentang sunat itu sakit. Sunat itu bukanlah meletakkan titit loe di rel kereta api lalu menunggu kedatangan kereta yang bakal melindas titit loe tersebut. Tapi sunat dilakukan dengan bius supaya loe nggak merasa sakit yang luar biasa. Jangan  tanyakan apakah sunat menggunakan gunting . Itu udah pasti. Karena sampai saat ini belum ada sunat yang dilakukan dengan menggunakan korek kuping.  Kalo pun itu terjadi, itu pasti hanya sebuah fiktif belaka.
Trust me ! 




Daftar Blog Saya

 
designed by @rifqiyusuf